Papua, Kemewahan dan Air Mata

- Jurnalis

Selasa, 8 Oktober 2024 - 17:43 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang sahabat pernah ke sebuah lokasi yang susah diakses di Papua. Posisinya di atas gunung. Perjalanan ke sana hanya via pesawat kecil, berisi 5-6 orang. Distrik Puldama, di pegunungan Oksibil.

Tidak ada akses jalan. Gedung sekolah dengan fasilitas seadanya. Hanya ada satu guru untuk seluruh murid SD. Itupun statusnya honorer

Ada Puskesmas. Tapi jaraknya sehari jalan kaki. Cuma ditunggui oleh mantri lulusan SMU. Kalau ada pasien, sakit apapun, obatnya sama : vitamin C dan aspirin

Masyarakatnya tinggal di honay, rumah jerami.

Hidup disana, waktu seperti berjalan pelan. Lelet sekali. Sebab gak banyak aktifitas yang dapat dilakukan. Suasana gelap gulita tanpa penerangan.

Untung saja waktu itu ada program desa terang dari ESDM. Setiap honay dapat satu panel surya, dua lampu, dan batere penyimpan energi. Jadilah ada setitip cahaya di setiap honey itu bila malam turun.

Komunikasi dengan dunia luar terhenti karena , gak ada sinyal. Paling ada satu pesawat walkie talkie untuk menginformasikan pesawat yang landing di jalur berbatu itu.

Di Nduga, lain lagi kisahnya. Satu kabupaten Nduga, jalan aspal paling hanya 5 kilometer saja. Selebihnya jalan seperti kubangan kerbau.

Bayangkan, bagaimana kemajuan bisa menyentuh rakyat dengan kondisi transportasi seperti ini

Keterbelakangan. Isolasi akibat alam yang keras. Pada akhirnya membuat masyarakat di pegunungan Papua sulit untuk berkembang maju. Wajar jika disana akhirnya berkembang KKB karena mereka merasa diperas oleh Jakarta.

Padahal kalau mau jujur, Pemerintah Pusat telah mngucurkan dana tidak sedikit ke Papua. Dana Otsus disalurkan untuk Papua dan Papua Barat sangat besar. Jumlahnya sampai Rp8,6 triliun setahun

Tapi kemana dana itu mengalir? Kenapa jalan-jalan di Papua masih seperti kubangan kerbau padahal sudah banyak sekali support dikucurkan Jakarta. Bagaimana kondisi sekolah disana. Puskesmas. Sarana publik lainnya?

Baca Juga :  Laut China Selatan Yang Mengitari Wilayah Perairan Pulau pengiki Harus Di Hapus Dari Peta Dunia

Kalau kita ke Jayapura atau Fakfak mungkin lain cerita. Kondisinya tidak beda dengan kota-kota lain di Jawa. Tapi coba tengok Nduga, Pegunungan Jaya, Puncak Jaya, Asmat. Kita akan menemuka wajah kemiskinan bercampur dengan keterbelakangan. Mereka seperti diisolasi oleh keterbatasan jalan dan akses transportasi.

Sekalinya mau di bangun jalan, KKB menembaki para pekerja. Sepertinya mereka memang sengaja untuk membiarkan Papua terisolasi. Tidak bisa ditembus. Atau menghalangi kemajuan

Untuk apa?

Mungkin dana Otsus yang besar itu hanya dinikmati segelintir elit Papua saja. Berputar disana untuk dirinya sendiri. Biasanya ketika Jakarta mau mengoreksi penggunaan dana Otsus, KKB langsung beraksi. Kekerasan seperti jadi bargaining agar Jakarta jangan pernah menanyakan kemana duit pusat dialirkan.

Tapi sampai kapan kita biarkan saudara-saudara kita di Papua menderita? Sampai kapan mereka dicekoki kebohongan bahwa mereka miskin karena kekayaan Papua diangkut ke Jakarta.

Padahal aset yang didapat Jakarta dari Papua, dibanding yang dikembalikan lagi kesana dalam berbagai bentuk DAK, DAU, Dana Otsus boleh dikatakan berimbang. Masalahnya duit itu larinya kemana?

Inilah masalahnya. Pemerintahan dulu sering malas mengutak-atik elit Papua karena ancaman kekerasan KKB. Ketika korupsi mau ditangani, mereka pasti memainkan isu ketidakadilan rasial. Padahal ujungnya demi hanya memuaskan keserakahan saja

Jika tidak cepat ditangani masalahnya, kasihan rakyat Papua. Khususnya yang tinggal di pegunungan. Mereka dicekoki kebencian kepada pendatang agar tetap mengisolasi diri. Agar para elit bebas perampok.

Baca Juga :  Jika Gubernur Kalbar (RN) Terbukti Tersangka Apakah Bisa Langsung Dimakzulkan

Kemiskinan dipertahankan untuk minta dana Otsus. Kekerasan jadi sarana bargaining. Dan para elit mendapat hasil paling banyak.

Bu Sri Mulyani sebel karena permainan seperti ini. Pak Jokowi juga sudah capek. Niat baik pemerintah pusat justru dihambat oleh elit di daerah

Maka diambilah langkah itu. Persetan dengan ancaman KKB. Persetan dengan gaya elit Papua yang selalu mengumbarkan masalah rasial. Para koruptor harus ditangani.

Sudah jadi rahasia umum, para elite dan kepala daerah di Papua, lebih banyak berkantor di Jakarta dengan segala kemewahannya. Ketimbang mengurus kemiskinan di daerahnya. Mereka gak peduli dengan kemajuan rakyatnya

Maka sebulan belakangan ini, dua kepala daerah Papua disasar. Pertama adalah Bupati Meembrano Tengah, yang kini kabur ke Papua Nugini. Dia mungkin kabur membawa segepok harta rampasan duit rakyat.

Kini Lukas Enembe, Gubernur Papua yang diseret KPK. Yang paling nyesek, PPATK menyingkap sekitar Rp560 miliar duit negara masuk ke perjudian di LN. Mungkin Las Vegas. Mungkin Marina Bay. Entahlah.

Sudah jadi rahasia umum, kader Partai Demokrat ini memang sering nongkrong di pusat-pusat judi dunia. Dua tahun lalu, bahkan foto Lukas sedang duduk di depan meja judi sempat viral.

Mantan Menkopolhukam Mahfud MD bilang, kasus ini satu dari puluhan kasus korupsi di Papua dengan jumlah duit fantastis. Pernyataan Mahfud ini menandakan pemerintah sudah gerah dengan kelakuan elit lokal. Mereka menari dan bergelimang kemewahan dengan tetap mempertahankan kemiskinan warganya.

Jika perilaku elit Papua tidak cepat diberesin, rakyat Papua akan terus menjerit. Dan kemiskinan sering kali seperti jerami.
Mudah terbakar

Penulis : Eko Kuntadhi – Sept 2022

Follow WhatsApp Channel derapreformasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jika Gubernur Kalbar (RN) Terbukti Tersangka Apakah Bisa Langsung Dimakzulkan
Laut China Selatan Yang Mengitari Wilayah Perairan Pulau pengiki Harus Di Hapus Dari Peta Dunia
Indonesia: “Toko Kelontong” Global yang Masih Berkutat di Zona Nyaman, Alarm untuk yang Masih Tertidur
Perkara Perbuatan Tindak Pidana Korupsi Sekjen Partai PDIP Berawal Dari Rentetan Peristiwa Politik
Midji-Didi Masih Mimpin Perolehan Suara Di Kalbar
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 14 Agustus 2025 - 01:13 WIB

Jika Gubernur Kalbar (RN) Terbukti Tersangka Apakah Bisa Langsung Dimakzulkan

Minggu, 13 Juli 2025 - 02:37 WIB

Laut China Selatan Yang Mengitari Wilayah Perairan Pulau pengiki Harus Di Hapus Dari Peta Dunia

Jumat, 30 Mei 2025 - 09:12 WIB

Indonesia: “Toko Kelontong” Global yang Masih Berkutat di Zona Nyaman, Alarm untuk yang Masih Tertidur

Kamis, 26 Desember 2024 - 09:05 WIB

Perkara Perbuatan Tindak Pidana Korupsi Sekjen Partai PDIP Berawal Dari Rentetan Peristiwa Politik

Rabu, 27 November 2024 - 22:18 WIB

Midji-Didi Masih Mimpin Perolehan Suara Di Kalbar

Berita Terbaru

Hukum

Wakajati Kalbar Setujui Mekanisme Keadilan Restoratif

Kamis, 20 Agu 2026 - 20:05 WIB

Hukum

Jemmy Novian Tirayudi Resmi Jabat Aspidsus

Selasa, 18 Agu 2026 - 20:45 WIB

Ekbis

Kejati Kalbar Dan BSI Perkuat Sinergi

Jumat, 14 Agu 2026 - 15:47 WIB